BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Tinjauan Umum Tentang
Komunikasi
2.1.1. Pengertian Komunikasi
Komunikasi merupakan hal yang terpenting
dalam kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.
Manusia tidak akan terlepas dari hubungannya dengan manusia lain, yang saling
mempengaruhi dan berinteraksi demi memenuhi kebutuhannya dan kepentingannya.
Pada hakikatnya, komunikasi adalah
proses pernyataan antara manusia,yang dinyatakan adalah pikiran atau perasaan
seseorang kepada orang lain dengan mengunakan bahasa alat penyalurannya.
Dalam bahasa komunikasi, pernyataan
dinamakan pesan (message), orang yang
menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator),
sedangkan orang yang menerima pernyataan diberi nama komunikan (commucate).
Untuk tegasnya, komunikasi berarti proses penyampaian pesan oleh komunikator
kepada komunikan.
Untuk memperjelas pengertian komunikasi
di dalam skripsi ini, maka penulis uraikan pengertian komunikasi menurut
beberapa ahli. Pengertian komunikasi menurut Wilbur Schramm, yang dikutip
oleh M.O. Palapah dan Atang Syamsudin
sebagai berikut: ”Communication berasal
dari latin yaitu communis, yang arti common, sama. Jadi jika kita mengadakan
komunikasi dengan suatu pihak, maka kita mengatakan gagasan kita untuk
memperoleh Commonnes dengan pihak lain itu
mengenai suatu objek tertentu.” (Palapah dan Atang, 1983:2-3 ).
Sedangkan menurut Onong Uchjana Effendy,
pengertian komunikasi adalah: “Proses
penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai panduan pikiran
dan perasaan berupa ide, kepercayaan, harapan, himbauan dan sebagainya. Yang
dilakukan seseorang kepada orang lain, baik langsung secara tatap muka, maupun
tak langsung melalui media dengan tujuan mengubah sikap, padangan atau
perilaku.” (Effendy, 1989:60)
Menurut Carl I. Hovland, yang dikutip
oleh Drs. Onong Uchjana Effendy, mendefinisikan komunikasi sebagai “Proses mengubah perilaku orang lain
(Communication is process to modify the behavior of other individuals).” (Effendy,
1997: 10)
Dengan demikian, seseorang akan mengubah
sikap, pendapat atau perilaku orang lain apabila komunikasinya itu memang
komunikatif.
Sedangkan menurut Turman Sirait, tentang
pengertian komunikasi adalah sebagi berikut : “Suatu tingkah laku perbuatan atau kegiatan penyampain atau pengoperan
lambang-lambang yang mengandung arti atau makna, atau perbuatan penyampain
gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang lain. Atau lebih jelasnya,
suatu pemindahan informasi mengenai pikiran dan perasaan-perasaan.”
(Sirait, 1982 : 11)
Dari pengertian di atas, jelas bahwa
komunikasi melibatkan sejumlah orang, dimana seseorang menyampaikan sesuatu pada orang lain dan
komunikasi ini merupakan konsekuensi dari hubungan sosial.
Komponen komunikasi menurut Onong
Uchjana Effendy, meliputi 5 (lima) komponen, yaitu :
a.
Comunicator (Pembawa pesan)
b. Message (Pesan atau berita)
c.
Channel (Media atau sarana)
d.
Commucate (Penerima berita)
e.
Effect (Efek).
Maksud dari kelima komponen komunikasi di atas menurut Onong Uchjana
Effendy, sebagai berikut :
a.
Komunikator (Pembawa Berita)
Komunikator,
yaitu pemrakarsa komunikasi (pembawa berita), bisa individu, keluarga, maupun
kelompok yang mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan komunikasi. Komunikasi ini berlangsung antar individu
atau kelompok lain yang menjadi sasarannya. Komunikator dapat juga
berati tempat berasalnya sumber komunikasi.
b.
Message (Pesan atau berita)
Message (pesan)
adalah berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambang-lambang,
pembicaran, gerakan dan sebagainya. Message bisa berupa gerakan, sinar, suara, lambaian
tangan, kibaran bendera atau tanda-tanda lain, dengan interpretasi yang tepat
akan memberikan arti dan makna tertentu.
c.
Channel (media atau sarana)
Channel (saluran) adalah, sarana tempat berlalunya pesan yang disampaikan oleh
komunikator kepada komunikan. Saluran tersebut meliputi :
1.
Pendengaran (lambang berupa
suara).
2. Penglihatan (lambang
berupa sinar, pantulan atau lambang).
3. Penciuman (lambang
berupa wangi-wangian/ bau-bauan).
4. Rabaan (lambang
berupa rangsangan rabaan).
Jadi secara
keseluruhan saluran bisa berupa radio,
televisi, telepon, koran, majalah dan lain-lain
d.
Komunikan (penerima berita)
Komunikan adalah,
objek atau sasaran dari kegiatan komunikasi atau orang yang menerima pesan atau
lambang. Dapat berupa individu, keluarga maupun masyarakat.
e. Efek (effect).
Efek adalah tanggapan, seperangkat reaksi komunikan setelah menerima pesan.
2.1.2.
Tujuan Komunikasi
Setiap komunikasi yang dilakukan
mempunyai tujuan. Tujuan komunikasi
menurut Onong Uchjana Effendy, adalah :
1.
Perubahan sikap (attitude
change)
2. Perubahan
pendapat (opinion change)
3.
Perubahan perilaku (behavior change)
4.
Perubahan sosial (social change
).
Selanjutnya untuk mencapai
tujuan tersebut itu, maka sebelumnya harus diteliti, apa yang menjadi tujuan
dilakukannya komunikasi itu. Tujuan komunikasi menurut A.W. Widjaja, adalah :
1. Apakah kita ingin
menjelaskan sesuatu pada orang lain. Ini dimaksudkan apakah kita menginginkan
orang lain mengerti dan memahami apa yang kita maksud.
2. Apakah kita ingin
agar orang lain menerima dan mendukung gagasan kita. Dalam hal ini tentunya
cara penyampaian akan berbeda dengan cara yang dilakukan untuk menyampaikan
informasi atau pengetahuan saja
3. Apakah kita ingin
agar orang lain mengerjakan sesuatu atau agar mereka mau bertindak.
2.1.3. Proses Komunikasi
Menurut Kariyoso dalam proses komunikasi
terdapat 4 (empat) komponen , yaitu :
1. Adanya pesan yang
harus disampaikan.
2.
Adanya pemberian pesan
(komunikator).
3.
Adanya penerimaan pesan
(komunikan).
4. Adanya umpan balik (feedback).
2.1.4. Fungsi-Fungsi Komunikasi
Berbicara
mengenai fungsi komunikasi, Onong
Uchjana Effendy, mengemukakan bahwa fungsi komunikasi adalah :
1.
Menginformasikan (to inform)
Adalah memberikan informasi kepada masyarakat,
memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide atau
pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan
orang lain.
2.
Mendidik (to educated)
Adalah
komunikasi merupakan sarana pendidikan. Dengan komunikasi, manusia dapat
menyampaikan ide dan pikiranya kepada orang lain, sehingga orang lain
mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.
3.
Menghibur (to entertain)
Adalah komunikasi selain berguna untuk menyampaikan
komunikasi, pendidikan dan mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan
hiburan atau menghibur orang lain.
4.
Mempengaruhi (to influence)
Adalah fungsi mempengaruhi setiap individu yang
berkomunikasi, tentunya berusaha saling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha
merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang di harapkan.
Dilihat dari
fungsi dan keberadaanya di masyarakat, komunikasi tidak bisa lepas dari
kehidupan, karena komunikasi akan selalu berada dalam kehidupan manusia
sehari-hari.
2.1.5. Definisi Komunikasi
Organisasi
R. Wayne Pace dan Don F. Faules dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan
Kinerja Perusahaan, mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai:
“Pertunjukkan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang
merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari
unit-unit komunikasi dalam hubungan–hubungan hierarki antara yang satu dengan
lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan”. (Pace dan Faules, 2000 : 31)
Sedangkan menurut wursanto tentang komunikasi
organisasi adalah suatu proses penyampaian informasi, ide-ide diantara para
anggota organisasi secara timbal balik dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. (Wursanto,
2002, 187).
2.1.6. Pesan
Pesan adalah
unsur yang sangat penting dalam komunikasi, untuk mengidentifikasi pesan
menurut Onong Uchjana Effendy,
sebagaimana dikutip oleh Alo Liliweri sebagai berikut : “Pesan merupakan pernyataan dalam bentuk stimuli yang disampaikan
komunikator kepada sasaran, memerlukan suatu strategi dan perencanaan
komunikasi dimana didalamnya kita harus menentukan jenis pesan, antara lain
informational mesaege (pesan yang mengandung informasi), instructional message
(pesan yang mengandung perintah), dan motivasional message (pesan yang berusaha
mendorong).” (Liliweri, 1997 : 20).
Pesan mempunyai kedudukan yang sentral
yang tidak boleh terabaikan dalam mencapai efektivitas komunikasi. Dalam hal
ini pesan yang disampaikan oleh komunikator adalah hal yang sangat penting
untuk disampaikan dan komunikator mencoba mengemas pesan sedemikian rupa agar
pesan tersebut dapat memberikan efek yang diharapkan. Untuk mendapatkan efek
yang diharapkan agar terciptanya komunikasi yang efektif antara komunikator dan
komunikan, pesan harus disampaikan sebaik-baiknya.
Menurut S.M Siahaan yang perlu diperhatikan komunikator di dalam
mempersiapkan pesan yang akan disampaikan pada komunikan, yaitu :
1.
Pesan harus cukup jelas (clear), bahasa yang mudah dipahami,
tidak berbelit, tanpa notasi yang menyimpang dan tuntas.
2.
Pesan itu mengandung kebenaran
yang sudah diuji (correct), pesan itu
berdasarkan fakta, tidak mengada-ada.
3. Pesan itu ringkas (concise), ringkas dan padat serta
disusun dengan kalimat pendek tanpa mengurangi arti kebenarannya.
4. Pesan itu mencakup
keseluruhan (comprehensif), ruang
lingkup pesan mencakup bagian-bagian penting yang patut diketahui komunikan.
5. Pesan itu nyata (conerete), dapat dipertanggung jawabkan
berdasarkan fakta dan data yang ada.
6. Pesan itu lengkap (complete) dan disusun secara sistematis.
7. Pesan itu menarik dan
menyakinkan (convincing), menarik
karena berkaitan dengan dirinya sendiri dan menyakinkan karena logis.
8. Pesan itu disampaikan
dengan sopan (courtesy), harus
diperhitungkan kadar kepribadian, kebiasaan, pola hidup, dan nilai-nilai
komunikan
9. Nilai pesan itu
sangat mantap (consistent), isi pesan
tidak mengandung pertentangan antar bagian satu dengan bagian pesan yang
lainnya.
Berdasarkan teori di atas, maka pesan itu
harus dapat dimengerti oleh penerima pesan (komunikan), yang tentunya dibantu
dan ditunjang oleh komunikator yang berperan dalam menyampaikan isi pesan.
Pesan selain harus dapat dipahami dan dimengerti oleh komunikan juga harus
dapat memberikan keuntungan dan nilai tambah bagi penerimanya. Selain itu juga
pesan tersebut harus sesuai dengan fakta atau mengandung kebenaran di dalamnya
sehingga komunikan merasakan manfaatnya. Pesan yang disampaikan komunikator
harus mencakup keseluruhan sehingga semua bagian-bagian yang terpenting tidak
terabaikan. Nilai pesan yang disampaikan juga harus mantap sehingga isi pesan
yang disampaikan tidak mengandung pertentangan antara bagian yang satu dengan
bagian yang lainnya dan dapat disampaikan secara utuh sehingga menguntungkan
bagi komunikan.
Dengan demikian jelas bahwa menyampaikan
pesan seorang komunikator harus mengemas
pesan terlebih dahulu dengan baik dan benar dengan melihat dan mempertimbangkan
dari berbagai aspek sehingga hasil yang diperoleh maksimal atau sesuai dengan
keinginan.
Menurut
Wilbur Scharmm yang dikutip oleh
Onong Uchjana Effendy, menampilkan apa
yang disebut “the condition of success in
communication” yaitu kondisi yang
harus dipenuhi jika pembicara atau komunikator menginginkan agar suatu pesan
membangkitkan tanggapan yang dikehendaki. Kondisi tersebut dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1. Pesan harus dirancang
dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
2. Pesan harus
menggunakan lambang-lambang yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara
komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.
3. Pesan harus
membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk
memperoleh kebutuhan tersebut.
4. Pesan harus
menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan yang layak bagi situasi
kelompok di mana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan
tanggapan yang dikehendaki.
Pendapat Onong Uchjana Effendy tersebut,
memberikan pedoman bahwa pesan yang akan disampaikan komunikator harus
dirancang terlebih dahulu sehingga komunikan merasa tertarik untuk
memperhatikan pesan yang disampaikan oleh komunikator. Kemudian komunikator
memberikan arahan kepada komunikan bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut.
Terakhir bahwa pesan harus disertai dengan pemecahan terhadap pemuasan
kebutuhan komunikasi yang akan disesuaikan dengan situasi kelompok komunikan
serta untuk mengetahui tanggapan-tanggapan komunikan terhadap pemecahan dari
komunikator untuk membandingkan pemecahan yang diinginkan komunikan dan mencari
pemecahan yang terbaik.
Menurut Onong Uchjana Effendy, Pesan diartikan sebagai : “Sesuatu gagasan yang telah dituangkan dalam
lambang untuk disebarkan atau diteruskan oleh komunikator. Pesan Komunikasi terdiri dari dua aspek, yaitu idea
atau isi pesan (the contents of message) dan lambang (symbol).” (Effendy,
1997 :37).
Isi pesan komunikasi bisa satu, tetapi
lambang yang dipergunakan untuk menyampaikan isi komunikasi adalah bahasa,
gambar, warna, gerak (gesture), dan
sebagainya.
Selanjutnya Onong Uchjana Effendy
menambahkan bahwa “Lambang verbal (verbal
symbol), sedangkan lambang-lambang lainya yang bukan bahasa lambang non verbal (non verbal symbol)”. (Effendy,
1993 : 33)
Lambang yang paling banyak digunakan
dalam komunikasi ialah bahasa (verbal
symbol), karena hanya bahasalah yang dapat mengungkapkan pikiran dan
perasaan, fakta, dan opini, hal yang konkrit dan abstrak, pengalaman yang sudah
lalu dan yang akan datang, bahasa merupakan lambang yang paling banyak
digunakan dalam komunikasi karena selain dapat mewakili kenyataan-kenyataan
kongkrit dan objektif dalam dunia sekeliling kita juga dapat mewakili hal-hal
yang sudah terjadi dan yang akan dilakukan oleh karena itu maka dalam
komunikasi bahasa memegang peranan penting, lebih banyak bahasa yang dikuasai
lebih mudah berkomunikasi, sedangkan lambang non verbal yaitu berupa
gerak, isyarat dengan anggota tubuh, gambar, alat dan sebagainya.
Selain itu seorang komunikator harus
mengetahu tujuan komunikan dan mengetahui audience-nya.
Oleh karena itu komunikator menurut Onong Uchjana Effendy, harus memperhatikan
hal-hal di bawah ini :
1. Waktu yang tepat
untuk suatu pesan.
2. Bahasa yang
dipergunakan harus jelas, agar pesan dapat dimengerti oleh komunikan.
3. Sikap dan nilai yang
harus ditampilkan agar efektif.
4. Jenis kelompok dimana
komunikasi akan dilaksanakan.
Bagi seorang komunikator untuk
menyampaikan pesan, faktor timing
sangat menentukan, karena penyampaian
pesan pada saat timing yang
tepat akan menimbulkan efek yang diharapkan, dan bagi komunikator bahasa juga
sangat berperan dalam menyampaikan pesan. Bahasa sedapat mugkin harus dapat
dimengerti oleh komunikan, karena apabila bahasa yang digunakan komunikator
tidak dimengerti oleh komunikan, maka komunikasi tidak akan berlangsung
maksimal. Komunikator dalam menyampaikan pesan harus mengetahui juga pada
kelompok apa ia akan menyampaikan pesan, apakah pada kelompok kecil atau
kelompok besar. Dengan mengetahui jenis kelompok yang dituju akan mempermudah
komunikator untuk beradaptasi dengan komunikan.
2.2. Tinjauan
Umum Tentang Public Relations
2.2.1. Pengertian Public Relations
Pengertian public relations dalam perkembangan masyarakat menyongsong era
informasi merupakan bagian dari teoritis dan praktis bagi suatu lembaga. Untuk
menjalankan hubungan yang harmonis antara lembaga dengan publiknya. Dalam
beberapa tahun terakhir ini dengan makin berkembangnya dunia bisnis dan
industri di Indonesia, maka makin kompleks pula persoalan yang akan muncul. Hal
ini mendukung seorang public relations
untuk menjadi wakil dari lembaganya demi kepentingan lembaga itu sendiri dan
publiknya.
Batasan pengertian mengenai public
relations, menurut para ahli hingga saat ini belum merupakan kesepakatan secara
tuntas, karena disebabkan banyaknya definisi dan batasan public relations yang berbeda .
Public
relations menurut M.O. Palapah dan
Atang Syamsudin, sebagaimana dikutip oleh Neni Yulianita adalah : “Bentuk spesialisasi komunikasi yang bertujuan
untuk memajukan saling pengertian dan
bekerjasama antara semua publik yang berkepentingan guna mencapai keuntungan dan kepuasan
bersama.” (Yulianita, 1999: 29)
Pada prinsipnya public relations adalah salah satu bentuk spesialisasi komunikasi personal,
komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Hal ini yang menjadikan sesuatu yang
khusus dengan kegiatan public relations,
gerakan-gerakan komunikasi yang lain adalah public
relations mempunyai tujuan yang pada awalnya adalah untuk memajukan saling pengertian,
bergerak pada saling percaya, saling mendukung, yang kemudian selanjutnya akan
tercapai adanya saling kerjasama diantara semua publik yang berkepentingan.
Menurut Neni Yulianita terdapat banyak
definisi public relations yang saling
berbeda dari sebagian ahli kehumasan namun pada pokoknya semua definisi tersebut mengandung
pengertian, sebagai berikut :
1. Public relations merupakan suatu kegiatan yang bertujuan
memperoleh goodwill, kepercayaan, saling pengertian dan citra yang baik
dari public atau masyarakat.
2.
Sasaran public relations adalah menciptakan opini yang favourable
(menguntungkan) semua pihak.
3.
Public relations merupakan unsur yang sangat penting dalam
manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik dari organisasi atau perusahaan.
4.
Public relations adalah usaha yang kontinue untuk
menciptakan hubungan yang harmonis ini
timbul dari adanya mutual understanding,
mutual confidence dan image yang
baik. Ini semua merupakan langkah-langkah yang ditempuh oleh public relations untuk menciptakan hubungan
yang harmonis.
Dari hal-hal yang telah
dikemukakan di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut, yaitu saling pengertian
dan citra yang baik dari public yang
baik atau masyarakat, tentu saja untuk
mencapai tujuan tersebut, kegiatan public
relations harus diarahkan pada upaya membina hubungan baik tentunya akan
tercipta opini publik yang favourable atau menguntungkan dengan semua
pihak.
2.2.2. Tujuan Public
Relations
Menurut Neni Yulianita, Pada Prinsipnya
tujuan public relations secara universal adalah sebagai berikut:
1.Menciptakan
citra baik
2.Memelihara
citra yang baik
3.Meningkatkan
citra baik
4.
Memperbaiki citra baik.
Berbeda dengan Oemi Abdurrachman tujuan public relations menurutnya sebagai
berikut :
1. Secara sederhana
Untuk mengembangkan hubungan
yang harmonis dengan pihak lain khususnya dengan public dan umumnya dengan
masyarakat.
2.
Secara sempurna
·
Untuk menciptakan, membina
dan memelihara sikap budi pekerti yang menyenangkan bagi lembaga atau
organisasi disatu pihak dan dengan public dilain pihak dengan komunikasi yang
harmonis dan timbal balik.
·
Mengembangkan good will dan memperoleh opini public yang favourable atau menciptakan kerjasama berdasarkan hubungan yang
harmonis dengan berbagai public, kegiatan public
relations diarahkan ke dalam dan keluar.
Dari
serangkaian tujuan di atas pada umumnya public
relations menekankan pada aspek citra, untuk membentuk citra dari public terhadap perusahaan atau
organisasi suatu hal yang sangat sulit, oleh karena itu jika suatu organisai
ingin mendapatkan favourable image,
harus mempunyai suatu badan yang menggerakannya yaitu public relations.
2.3. Teori S-O-R
Teori S-O-R sebagai singkatan dari stimulus-organism-respons, ini berasal
dari psikologi, kalu kemudian menjadi teori komunikasi, tidak mengherankan
karena objek material dari psikologi dan ilmu komunikasi adalah sama, yaitu
manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen dari sikap, opini, dan prilaku
kognisi, afektif dan konasi. Efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus
terhadap stimulus khusus sehingga seseorang dapat mengharapkan dan
memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Unsur-unsur dalam model ini adalah :
a.
Pesan (Stimulus, S).
b.
Komunikasi (Organism, O).
c.
Efek (Response, R).
Dalam proses komunikasi berkenaan dengan
perubahan sikap adalah aspek “how” bukan
“what” dan “why” jelasnya “how to communicate” . Dalam hal ini how to change the attitude, bagaimana
mengubah sikap komunikan. Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap dapat
berubah hanya jika stimulus yang menerpa benar-benar melebihi semula. Prof. Dr.
Mar’at dalam bukunya “Sikap Manusia”, perubahan serta pengukurannya, mengutip
pendapat Hovland, Janis, dan Kelley yang mengatakan bahwa dalam menelaah sikap
ada tiga variabel penting, yaitu :
a. Perhatian.
b.
Pengertian.
c.
Penerimaan.
Gambar 2.3.
Teori S-O-R
![]() |
||||||
|
||||||
(Sumber : Hovland, Janis dan kelley dalam Mar’at
1982 : 27)
Gambar diatas menunjukan bahwa perubahan sikap bergantung pada proses
yang terjadi pada individu stimulus atau pesan yang disampaikan pada komunikan
mungkin diterima atau ditolak, komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian
dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan inilah yang
melanjutkan proses berikutnya setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya,
maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.
2.4.
Tinjauan tentang Human Relations
Tidaklah mudah untuk mencari sebuah
pengertian dalam bahasa Indonesia yang benar-banar tepat sebagai terjemahan
dari istilah human relations, ada
yang menerjemahkan menjadi “hubungan manusia”, dan ada pula yang
mengalihbahasakannya menjadi “hubungan antar manusia”. Secara harfiah terjemahan tersebut
mungkin tidak salah, tetapi kedua-duanya tidak mengandung makna yang sebenarnya
yang dikandung oleh human relations
itu. Baik pada istilah “hubungan manusia” maupun “hubungan antar manusia” tidak
terdapat ciri-ciri hakiki human relations.
Ciri hakiki human relations bukan human dalam pengertian wujud manusia (human being), melainkan dalam makna
proses rohaniah yang tertuju kepada kebahagiaan berdasarkan watak, sifat,
kepribadian, sikap, tingkah laku dan aspek kejiwaan lainnya yang terdapat pada
diri manusia. Karena itu terjemahan yang paling mendekati makna dan maksud human relations adalah hubungan
manusiawi atau hubungan insani. Human
relations bersifat oriented bukan
hanya hubungan yang pasif dan yang dituju adalah kepuasan batin, sehingga saat
ini human relations banyak diterapkan
oleh perusahaan.
Pengertian human relations menurut Abdurrachman adalah : “Human Relations adalah
interaksi dari orang-orang kedalam suasana kerja dengan memotivasi, mereka akan
bekerja bersama-sama secara produktif, kooperatif dengan kepuasan baik mengenai
segi ekonominya maupun psikologis dan sosialnya. Human Relations yang efektif
adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan orang-orang itu, memberikan kepuasan
kepada mereka dengan batas-batas kemampuan badan itu.” (Abdurrachman, 1983,
81).
Sedangkan pengertian
human relations menurut
Musanef adalah :
“segala hubungan baik yang
bersifat formal maupun informal yang dijalankan oleh atasan terhadap bawahan,
oleh bawahan terhadap sesama bawahan, oleh atasan terhadap atasan dalam usaha
memupukkan suatu kerjasama yang intim dan selaras guna mencapai tujuan yang
telah di tetapkan”. (musanef 1996 : 75)
2.4.1.
Ruang Lingkup Human Relations
Masalah human relations adalah masalah rohaniah, yaitu proses rohaniah yang
menyangkut watak, sifat, kepribadian, sikap dan tingkah laku menuju suatu
kebahagiaan atau kepuasan hati. Proses rohaniah dan perasaan bahagia ini
berlangsung pada dua atau tiga orang yang terlibat dalam hubungan komunikatif,
yakni komunikasi antar personal yang karena sifatnya dialogis, maka
masing-masing tahu, sadar, dan merasakan efeknya, jika kesemuanya merasa
bahagia maka orang yang melakukan kegiatan human
relations itu berhasil tetapi sebaliknya apabila tidak menimbulkan rasa
puas maka human relations itu
dinyatakan gagal.
2.4.2.
Pengertian Human Relations
·
Human Relations dalam arti luas
Human relations dalam
arti luas adalah komunikasi yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain
secara tatap muka dalam segala situasi
dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan
kepuasan hati pada kedua belah pihak, jadi human
relations itu dilakukan dimana saja dan kapan saja. Suksesnya seseorang dalam melaksanakan human relations karena ia berkomunikasi
secara etis, ramah, sopan, menhargai dan manghormati orang lain.
·
Human Relations dalam arti sempit
Human
relations dalam arti sempit adalah komunikasi persuasive yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara
tatap muka dalam situasi kerja (work
situation) dan dalam organisasi kekaryaan (work organization) dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan
kegiatan bekerja dengan semangat kerjasama yang produktif dengan perasaan
bahagia dan puas hati. “Dengan human
relations dapat diusahakan untuk menghilangkan rintangan-rintangan komunikasi,
mencegah salah pengertian, dan mengembangkan segi konstruktif sifat tabiat
manusia.” (Norman R.F Maier).
Jadi human relations dalam organisasi kekaryaan adalah komunikasi
persuasif antara orang-orang yang berada dalam struktur formal untuk mencapai
suatu tujuan.
Human relations merupakan suatu komunikasi persuasive,
bukan hanya sekedar relasi atau hubungan saja. Artinya human relations bukan suatu keadaan pasif, melainkan suatu
aktivitas.
Suatu kegiatan human
relations adalah suatu ‘action oriented”,
yaitu merupakan suatu kegiatan untuk mengembangkan hasil yang lebih produktif
dan memuaskan (to develop more productive
and satisfying results).
Human
relations adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied art and science), dan dipandang dari sudut seorang pemimpin
yang bertanggung jawab untuk memimpin sebuah kelompok, human relations adalah pengintegerasian orang-orang kedalam suatu
situasi kerja yang menggiatkan mereka untuk bekerja bersama-sama serta dengan
rasa puas, baik kepuasan ekonomis, psikologis, dan sosial.
Singkatnya human relations adalah pengembangan
usaha kelompok karyawan secara produktif dan memuaskan.
Kunci Aktivitas Human
Relations
1.
Motivasi
Memotivasi para karyawan untuk bekerja giat berdasrkan kebutuhan mereka secara
memuaskan, yakni kebutuhan akan gaji bagi keperluan keluarga sehari-hari.
2.
Kepuasan
Kebahagiaan seseorang karyawan yang mendapat
kenaikan gaji mungkin akan menyebabkan beberapa teman sejawatnya tidak senang
tetapi lingkungan dan suasana yang bisa
membantu seluruh karyawan memperoleh kebahagiaan yang dapat diciptakan dan
diadakan.
3.
Mencapai tujuan
Seseorang memasuki suatu organisasi karena ia berpikir
organisasi akan dapat membantu dirinya mencapai tujuannya. Demikian pula
karyawan, mereka merupakan anggota organisasi kekaryaan dimana mereka bekerja
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
4.
Komunikasi secara manusiawi
Dalam melaksanakan human relations,
pemimpin organisasi atau kelompok melakukan komunikasi dengan para karyawannya
secara manusiawi untuk menggiatkan mereka bekerja bersama-sama, sehingga
hasilnya memuaskan disamping mereka bekerja dengan hati yang puas.
2.5.
Komunikasi Persuasif
Kegiatan komunikasi persuasif yaitu agar
orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan dan melakukan suatu
kegiatan tertentu. Hovland mengatakan bahwa : “Komunikasi adalah proses mengubah prilaku orang lain.” (Effendy,
2002 : 10).
Metode persuasi yang diungkapkan oleh
beberapa ahli seperti Browmen, Newcomb, Cartwright dan lain-lain yaitu :
1. Metode Partisipasi
Mengikutsertakan
seseorang atau public kedalam sesuatu
kegiatan agar timbul saling pengertian diantara mereka.
2. Metode Asosiasi
Penyajian suatu
pesan yang dihubungkan dengan suatu peristiwa yang menarik perhatian public.
3. Icing
Device
Yaitu menyajikan
suatu pesan dengan menggunakan emotional
appeal agar lebih menarik, dapat memberikan kesan yang tidak mudah
dilupakan dan lebih menonjol pada yang lain.
4. Pay of
Idea
Penyajian pesan yang
mengandung anjuran yang bila anjuran itu ditaati, pasti hasilnya memuaskan.
5. Fear
Arrousing
Menyajikan suatu
pesan yang menimbulkan rasa khawatir atau takut bila tidak mematuhi
informasi-informasi yang dikemukakan.
2.6.
Pengertian Sikap dan Prilaku
Studi yang berkaitan dengan masalah sikap mulai dari teori, kontruksi,
konsep sampai dengan pengukurannya telah banyak diteliti para ahli psikologi
sosial dan komunikasi, oleh karena itu akhirnya muncul berbagai definisi sikap
dari banyak ahli dengan masing-masing pendekatan dan perspektif yang berbeda.
Seorang individu dalam suatu lingkungan dan situasi sosial, pasti akan bereaksi
dengan keadaan, peristiwa atau orang-orang sekitarnya. Hal ini terjadi karena
dalam individu tersebut selalu ada mekanisme mental yang mengevaluasi,
membentuk pandangan, mewarnai peasaan dan ikut menentukan kecenderungan
perilaku individu bersangkutan terhadap individu lain atau sesuatu yang
dihadapinya itulah yang disebut fenomena sikap. ”Fenomena sikap timbul tidak saja dietentukan oleh keadaan objek yang
sedang dihadapi individu saat ini tetapijuga berkaitan dengan pengalaman masa
lalu oleh situasi saat ini dan oleh harapan-harapan di masa datang.”
(Azwar, 1998 : 5)
W.A Gerungan mengingatkan sikap terhadap
objek tertentu, dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, sikap yang
disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek
tersebut. Jadi sikap ini merupakan reaksi individu yang ditujukan kepada
kegiatan dan kelompok social, lembaga social dan dunia sekitar. ”Sikap dapat dipandang sebagai suatu pola
respons, suatu kecenderungan berpikir atau bertindak dengan suatu cara
tertentu.” (Gerungan, 1984 : 71 )
2.6.1. Karakteristik Sikap
Menurut Seitel, sikap
didasari kepada sejumlah karakteristik, diantaranya adalah sebgai berikut :
1. Personal
Faktor secara fisik
dan emosional suatu individu, termasuk ukuran fisik, umur, status social.
2. Budaya
Lingkungan dan gaya
hidup dari suatu daerah geografis tertentu.
3. Pendidikan
Tingkat
dan kualitas pendidikan seseorang.
4. Keluarga
Asal-usul
keluarga.
5. Agama
Suatu sistem
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau terhadap supranatural.
6. Kelas Sosial
Posisi dalam
masyarakat, perubahan status sosial seseorang akan memepengaruhi sikap
seseorang.
7. Ras etnik asli.
2.6.2 Ciri-Ciri Sikap
Menurut Soemirat dan Yehuda, ciri-ciri
sikap adalah sebagai berikut :
1. Bukan dibawa sejak
lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu,
dalam hubungan dengan objeknya.
2. Sikap dapat berubah-ubah,
karena dapat dipelajari.
3. Sikap itu tidak dapat
berdiri sendiri, tetapi senantiasa mengandung
hal tertentu terhadap sesuatu objek.
4. Sikap itu dapat
merupakan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal
tersebut.
5. Sikap mempunyai
persaan, sifat inilah yang membedakan sikap dari pada kecakapan atau
pengetahuan yang ridak dimiliki seseorang
2.6.3. Komponen sikap
Berdasarkan definisi tentang sikap maka suatu sikap menurut Gibson
mengandung tiga komponen yaitu :
1.
Kognitif
Merupakan proses mental tertinggi yang
meliputi kesadaran pengetahuan dan cara berpikir terhadap sesuatu masalah.
Semuanya itu merupakan aspek dari komponen kognitif, yang mempersepsikan nilai,
arti dari fungsi objek atau situasi yang dihadapinya. Dengan demikian komponen
kognitif merupakan kesatuan yang membentuk hubungan tertentu antarasubjek dan
objek, subjek akan beraksi secara terarah dengan konsep yang terbentuk dengan
situasi yang dihadapinya.
2. Afektif
Komponen afektif menyangkut masalah
emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap secara umum komponen
ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
3.
Konatif
”Komponen
konatif menunjukan bagaimana prilaku yang ada dalam diri individu yang berkaitan
dengan kondisi dimana individu telah mengambil keputusan untuk bertindak.” (
Gibson 1984 : 57 ).
2.6.4.
Fungsi Sikap
Selain itu juga sikap mempunyai fungsi yang penting, menurut Calhoun ada tiga fungsi penting dari sikap
yaitu :
1. Sikap mempunyai
fungsi organisasi
Keyakinan yang terkandung dalam sikap kita
memungkinkan kita mengorganisasikan pengalaman sosial kita, membebankan
perintah tertentu dan memberi makna.
2. Sikap mempunyai
fungsi kegunaan
Kita menggunakan sikap untuk menegaskan
sikap orang lain dan selanjutnya memperoleh persetujuan sosial.
3. Sikap mempunyai
fungsi perlindungan
4. ”Sikap menjaga kita dari ancaman terhadap harga
diri.” (Soemirat dan
yehuda, 2001 : 2.21).
